Saturday, 9 March 2019

Pentingnya Mengelola Potensi Wisata Desa




Berbicara mengenai obyek wisata, tidak selalu identik dengan wahana permainan yang berbiaya mahal. Pun juga tidak mesti gunung atau pantai yang tak semua daerah punya. Kini, sesuatu yang sederhana pun bisa disulap menjadi destinasi wisata, itulah yang disebut potensi wisata.
Sebagai contoh, Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan memiliki Wisata Edukasi Kampung Susu. Berbekal tekad dan kerja keras, Kalipucang berhasil memanfaatkan potensi desanya yakni penghasil susu sapi perah sebagai atraksi wisata. Kini kampung susu semakin dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan.
Contoh lain, Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari yang memanfaatkan aspek budaya untuk menarik wisatawan ke desa. Baleganjur, Ogo-Ogo dan Reog adalah beberapa contoh atraksi budaya yang menawarkan pengalaman tersendiri kepada pengunjung.
Dua contoh di atas merupakan sedikit dari banyak desa di Kabupaten Pasuruan yang berhasil mengembangkan potensi desanya menjadi destinasi wisata. Wisata desa memiliki dampak positif salah satunya yaitu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Namun, ada tahapan yang perlu dilalui agar desa mampu mengembangkan potensi wisata hingga menjadi desa wisata. Setidaknya ada empat faktor sebagai berikut.
1. Kolaborasi dan Kesadaran Bersama
Beragam kisah sukses tentang desa wisata menceritakan bahwa faktor utama adalah komitmen bersama semua elemen desa baik dari pemerintahan desa, lembaga desa dan masyarakat desa. Ketiga elemen tersebut harus saling sinergi dan gotong royong untuk membangun desanya.
2. Menggali Potensi Desa
Setiap desa pasti memiliki potensi wisata. Potensi tidak selalu dimaknai sumberdaya alam yang sudah tersedia. Potensi bisa juga digali dari karsa cipta masyarakat seperti budaya, adat istiadat, nilai-nilai masyarakat atapun ide baru yang disepakati bersama.
3. Kelembagaan dan Administrasi
Langkah selanjutnya adalah menyusun struktur kelembagaan dan legalitas yang mengelola potensi wisata tersebut di bawah naungan pemerintah desa. Misalnya Badan Usaha Milik Desa, Kelompok Kerja (Pokja) ataupun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
4. Perencanaan dan Aksi
Tahapan ini adalah yang paling penting. Setelah desa selesai mengenali potensi wisata dan sumber daya pengelolanya, maka langkah selanjutnya yaitu membuat perencanaan yang matang dan melaksanakannya.
sumber Berita : wda.averroes.or.id

PENUTUPAN KKU STIE KARTANEGARA MALANG

Penutupan Kuliah kerja Usaha yang dihadiri oleh berbagai macam unsur yang ada di desa jatiarjo meliputi kelompok tani, penggiat wisata desa dan pemerintah desa jatiarjo.


sambutan pertama disampaikan oleh Ketua FCI  dan mengucapkan terima kasih karena mahasiswa diterima dengan baik oleh warga masyarakat sekitar dan di progam yang di bawa oleh STIE KARTANEGARA MALANG adalah progam KKU Tematik 2019 dengan tema UMKM GO DIGITAL.  yang sudah dilaksanakan 17 februari sampai dengan 03 maret didesa jatiarjo, dan bagaimana cara untuk berkomunikasi kepada masyarakat sudah terlampaui untuk progam kedua adik kelasnya untuk menemukan progam berikutnya didesa jatiarjo.
Kegiatan ini membawa berkah kepada desa jatiarjo  dan pemerintah desa jatiarjo,  dan selema dua minggu didesa sudah bisa melakukan memanjemen waktu,  maka dari itu hasil yang djcapai untuk bagaimana untuk bersosial media yang baik dan membuat sebuah market place untuk media promosi desa. tukas sareh rudian Kepala Desa Jatiarjo.
untuk pencapaian  out put yang sudah  dilakukan oleh mahasiswa STIE KARTANEGARA MALANG KKU TEMATIK 2019 yang pertama adalah  pemasaran melalui media radio STAR FM 105.5 FM.  melalui tiga progam radio. kedua pelatihan pemasaran go digital.  ketiga pemasangan lampu hias di kampung kopi jatiarjo. keempat desain papan jalan di desa jatiarjo untuk pengembangan desa wisata.
Imam

Wednesday, 27 February 2019

Menuju Desa Wisata Berkelanjutan





Desa Wisata belakangan ini menjadi topik yang menarik dan ramai diperbincangkan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya potensi yang ada di desa serta antusias masyarakat untuk mengembangkan desanya.
Atas dasar tersebut, Program Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) melaksanakan Pelatihan Manajemen Desa Wisata, (23-25 Februari 2019).
Kegiatan yang digelar di Hotel Inna Tretes, Pandaan, Kabupaten Pasuruan ini diikuti oleh 37 peserta yang terdiri dari perwakilan tujuh desa yaitu Desa Gerbo, Rombo Kulon, Kalipucang, Jatiarjo, Jatisari, Podokoyo dan Jarangan.
Ada tiga aspek yang perlu di perhatikan untuk menuju desa wisata agar berkelanjutan antara lain aspek sosial budaya, sosial budaya dan lingkungan. Hal tersebut disampaikan oleh Udik Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul yang menjadi narasumber pada sesi pertama.
“Jika pariwisata yang kita bicarakan ekonomi saja, masyarakat yang akan diomogkan hanya ekonomi saja. Padahal ada tiga aspek yaitu ekonomi, sosial budaya dan lingkungan,” ucapnya.
Udik menjelaskan bahwa keuntungan ekonomi harus dirasakan oleh masyarakat, karena adanya wisata itu harus memberikan dampak yang nyata pada masyarakat sekitarnya. Namun pada sisi lain, perhatian dan kepedulian terkait keadaan lingkungan wisata juga tidak kalah penting agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
“Keuntungan ekonomi harus dinikmati oleh penduduk setempat, lapangan pekerjaan, pembangunan pariwisata harus berkelanjutan, kesadaran masyarakat serta penduduk terkait lingkungan desa juga harus diperhatikan, jadi pengunjung ketika masuk desa harus mendapatkan pengalaman yang baik,” tuturnya.
Pada sesi kedua yang dipandu oleh Surya Niti Habsara membahas mengenai pengelolaan keuangan desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). “Ketika menggunakan dana desa itu akan berisiko karena itu termasuk dana dari pemerintah yang wajib dipertanggungjawabkan. Jika tidak dipertanggungjawabkan itu termasuk korupsi,” kata Surya memulai sesi forum.
Pria yang juga bekerja sebagai konsultan keuangan di PT Syncore Indonesia ini menambahkan bahwa desa perlu juga memikirkan usaha atau bisnis yang dikelola secara mandiri oleh desa. “Selain mengandalkan suntikan anggaran dari pemerintah atas, desa harus juga punya pemasukan yang diinisiasi dan dikelola oleh desa secara mandiri, atau biasanya dikelola oleh Bum Desa,” terangnya.
Lebih lanjut, Surya menegaskan bahwa keberadaan Bum Desa juga memiliki alur yang hampir sama dengan bisnis lainnya. “Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan dalam alur pengelolaan keuangan. Planningdoingchecking dan action. Empat hal ini harus dilakukan secara bersama-sama dan sinkron antara unit usaha, Bum Desa dan pemerintah desa,” ujarnya

Tuesday, 26 February 2019

Evaluasi Kegiatan KIM Kabupaten Pasuruan

Untuk mengevaluasi hasil pembinaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Pasuruan selama tahun 2018, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Pasuruan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) KIM. Dihadiri sekitar 50 anggota KIM yang terdiri dari seluruh cluster, kegiatan tadi dilaksanakan di Ruang Rapat Staf Ahli Pemkab Pasuruan, Senin (25/2/2019).       

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan, Syaifudin Ahmad mengatakan, KIM sangat berperan strategis di masyarakat terlebih di era keterbukaan informasi. Melakukan diseminasi informasi kepada masyarakat melalui masing-masing media online dan media sosial yang dikelola diantara tugas dan kewajiban KIM yang harus terus ditingkatkan. Tidak terkecuali dengan selalu mendukung visi Bupati Pasuruan.
“KIM harus semakin aktif dalam melakukan diseminasi informasi kepada masyarakat. Pastinya juga harus selalu mendukung visi Bupati Pasuruan yakni menuju Kabupaten Pasuruan yang maslahat, sejahtera dan berdaya saing. Apalagi selama ini kami dukung dengan pola pembinaan yang intens dengan materi disesuaikan dengan kebutuhan. Ditambah lagi bantuan Personal Computer (PC) untuk ke-24 Forum KIM Kecamatan dan dikukuhkannya Forum KIM Kabupaten Pasuruan oleh Bupati”, paparnya.    
Diakui Kabid Komunikasi Publik, Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan, Tri Krisni Astuti bahwa pasca pembinaan yang diberikan sepanjang tahun 2018, eksistensi KIM di Kabupaten Pasuruan saat ini telah menunjukkan progres cukup signifikan. Indikasinya dapat dilihat dari semakin banyaknya KIM Desa yang aktif meng-update konten jurnalistik di media online yang dikelolanya, baik website, blog maupun media sosial yakni Facebook dan Instagram.
"Kami salut dengan keaktifan teman-teman KIM baik cluster 1, 2 maupun cluster 3 yang dari hari ke hari makin eksis di website maupun blog-nya. Ke depan, kami harapkan KIM bisa lebih aktif lagi terutama dalam menggali dan mempromosikan potensi Desanya”, jelasnya.
Selama forum diskusi yang berlangsung selama kurang lebih empat jam, seluruh peserta tampak  sangat aktif dan antusias. Sehingga kegiatan yang bertujuan untuk mengevaluasi sekaligus menginventarisir materi pembinaan KIM untuk pelaksanaan tahun 2019 tersebut berjalan dengan dinamis dan gayeng.
Diantara hasil ide dan gagasan yang disampaikan oleh peserta adalah kewajiban seluruh Forum KIM Kecamatan dalam membuat laporan aktivitas di setiap KIM Desanya untuk dikumpulkan ke Dinas Kominfo Kabupaten Pasuruan sebagai bahan evaluasi. Seperti yang disampaikan Ketua Forum KIM Kecamatan Nguling, Toto, bahwa laporan tersebut sangat dibutuhkan untuk mengukur tingkat keaktifan KIM di Kabupaten Pasuruan.
“Semua KIM Desa di Kecamatan Nguling telah memiliki blog tapi masih banyak yang belum di-update. Itu memang masih menjadi PR bagi kami untuk meningkatkan kualitas SDM agar lebih aktif berperan. Kami juga berharap, ada penugasan dari Dinas Kominfo kepada semua KIM untuk membuat laporan kegiatan setiap 3 bulan sekali, berikut target kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh KIM Desa”, tuturnya.
Di sisi lain, Ketua KIM Sadewo, Kecamatan Wonorejo, Taufik menyuarakan tentang pentingnya sinergi seluruh KIM di Kabupaten Pasuruan dalam berjejaring di media online. Terutama  saling membantu dalam mempromosikan produk UMKM di Desa masing-masing, baik melalui re-share tautan konten ulasan produk yang diunggah di website/ blogmaupun memberikan ulasan subscribe konten youtube yang diunggah oleh KIM. Nantinya, ada benefit berupa mata uang Dollar yang bisa diperoleh dari akumulasi aktivitas subscribe yang dilakukan. 
sumber berita pasuruankab.go.id

Tuesday, 29 January 2019

Sosialisasi RTLH Desa Jatiarjo

Dalam pembangunan Desa yang dilaksanakan desa jatiarjo yang kerja sama dengan Koramil Prigen yang dikoordinatori oleh Samsul Huda dengan 31 rumah yang akan di bangun di dua dusun tonggowa dan cowek. kegiatan ini dilasanakan di Kampung kopi jatiarjo (29/01) dengan menghadirkan para penerima bantuan RTLH ini.



sambutan  pertama di sampaikan oleh Sareh Rudianto menyampaikan progam yang akan dilaksanakan tentang Progam pembangunan desa di tahun 2019. yang menyesuaikan undang undang pengunaan dana desa dengan persentase 40% pembangunan dan 60% pemberdayaan masyarakat. dan untuk melaksanakan itu maka dalam waktu dekat akan dirapatkan semua prangkat dan RT RW.  dan tokoh masyarakat yang ada didesa jatiarjo.
dan di pelaksana kegiatan ini Samsul Huda selaku Babinsa Desa jatiarjo memonitoring semua kegiatan itu agar semua material yang datang sampai sesuai sasaran. dan harapan dari TNI ada progam TMMD untuk bertanya langsung kepada pihak pemberi progam yaitu TNI.  agar informasi yang diterima jelas sesuai  dengan apa yang dilaksanakan untuk menghindari berita hoax didesa.
Joni kepala Koramil prigen juga memberikan sambutan  teng progam yang akan dilaksanakan di jatiarjo hasil dari kegiatan ngopi bareng bupati yang dihadiri  oleh bpk bupati pasuruan bpak dandi kab pasuruan untuk mengatasi permasalahan yang ada didesa jatiarjo dengan Rumah tidak layak huni dengan 30 rumah.
juga ada progam TMMD ( Tentara Manunggal Membangun Deda)    yang akan dilaksnakan didesa Jatiarjo dibulan 10 2019.
[imam]

Saturday, 19 January 2019

Tips menjadi Seorang Narasumber

Tips menjadi pembicara handal :
1. Usahakan tangan memegang mikrophone sedikit posesif agar tidak hilang...mahal kan kalau mengganti barang yang hilang.
2. Tangan satunya usahakan memegang pointer bukan sendok... karena bukan saatnya makan.
3. Mulut dan mata sedikit didramatisir agar kelihatan kita bicara serius.
4. Sering mengajak senyum moderator agar kalau lupa pertanyaannya tetap dibantuin tidak dimarahi.
5. Pastikan ada yang motret agar ada bukti pernah menjadi pembicara.

Selamatan Praktek dan Mencoba. 
[imam]

Sunday, 13 January 2019

Cangkruan di kampung kopi

Ngopi bareng dengan bertukar ide itu sudah muali menjadi kebiasaan warga masyarakat desa tapi ini lebih kearah bagaimana kita memperkanalkan potensi desanya dengan istilah cangkruan di warung kopi. tidak hnaya golongan muda saja yang suka ngopi golongan tua yang dulunya suka dengan kopi yang biasanya diproses dengan menyeduhnya denhmgan gula sekarang dengan adanya kampung kopi jatiarjo mulai bergeser dengan kopi tanpa gula yang dipriloses nyeduhnya lebih moderen.
Ngopi pintar Sonjo Kampung 

dalam cangkruan ini ada pengunjung dari desa lecari sukorejo  tomy panggilan nya.  mengatakan bangga melihat  pemuda yang menggerakkan untuk memajukan desa dengan membuat sebuah  terobosan baru ditengah masyarakat dengan konsep desa wisatanya karna beliau mengatakan jarang jarang ditemukan seperti ini.
kegiatan ini berlangsung selama 2 jam di kampung kopi jatiarjo (13/1) dengan banyak tokoh yang datang untuk diskusi untuk kemajuan desanya. dan harapan kedepan ingin membawa rekan rekan mudanya didesanya untuk belajar membangun desa.  agar Kabupaten  Pasuruan kedepan jadi Kabupaten terbaik dibidang pariwisata.
[imam]
Study Replikasi Desa Sekecamatan Prigen Ke Reco Kembar Desa Cowek Purwodadi

Study Replikasi Desa Sekecamatan Prigen Ke Reco Kembar Desa Cowek Purwodadi

Bertajuk study replikasi dalam rangka fasilitasi replikasi inovasi, tentang wisata desa reco kembar desa cowek kecamatan Purwodadi kabupaten pasuruan.
Study Banding TPID Prigen Ke Wisata Desa Reco Kembar, Foto : Imam Bukhori
Kegiatan ini diprakarsai oleh TPID Kecamatan Prigen, dengan melibatkan Muspika Prigen,beberapa kepala desa, pendamping desa, team TPID dan pendamping profesional teknis. Total rombongan 45 orang.
Menurut Anis (TP3MD), tujuan study banding ini adalah untuk mencontoh replikasi Desa cowek sebagai pengembangan wisata desa bagi desa-desa di kecamatan prigen. Pernyataan Anis ini senada dengan yang disampaikan oleh Mujiono (Camat Prigen), “Kegiatan study banding ini, menjadi study tiru referensi dalam pengembangan Desa di wilayah Kecamatan Prigen,” Papar Mujiono. “Mereplikasi dalam arti menemukan potensi yang nantinya bisa dikembangkan sebagai tombak pembangunan perekonomian desa,” imbuhnya. 11/01/2019
Rombongan study banding sampai ke lokasi replikasi Reco kembar pada tengah hari, dan disambut oleh Iwan Suriadi (Kades Cowek), dalam sambutannya Kepala Desa Cowek ini menceritakan proses replikasi wanwisata Reco Kembar. “Semula lokasi ini adalah bekas tambang galian C yang tidak terurus, dan tidak produktif karena gersang, akhirnya muncul ide dari saya, untuk memanfaatkan kawasan ini sebagai kolam pemandian, berangkat dari ide ini, saya selaku kepala desa mencoba mengintegrasikan kepada semua lapisan masyarakat. Dan bak gayung bersambut, dengan antusias masyarakat Desa Cowek menyambut ide ini, Papar Kepala Desa Cowek.
‘’ Saya berharap, Wisata Reco Kembar yang telah dikelola oleh BUMDES ini, menjadi embrio pembangunan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai manivestasi pengabdian saya kepada warga Desa Cowek, tentunya ini akan memberi nilai tambah bagi perekonomian warga desa dan pendapatan asli desa,” kata Kepala Desa. “Prioritas kami tidak semata untuk menambah PAD, tapi juga untuk honor guru guru Madrasah dan Madrasah Diniyah yang ada di desa kami,” imbuh Suriadi dengan penuh semangat.
Setelah pertemuan di balai desa, peserta study banding di arahkan ke lokasi wisata Reco kembar yang berjarak kisaran 1 KM, dengan menggunakan kereta odong-odong. Setelah sekitar 10 menit kami mengendarai odong odong, sampailah di sebuah kolam renang di pengujung kampung bekas tambang yang kini disulap menjadi mesin pendulang rupiah. Wal hasil berkat kerja keras, gotong royong, semangat dan juga kreatifitas warganya, Desa Cowek kini  berkembang menjadi salah satu destinasi wisata berbasis masyarakat.
Oleh : Syamsuri Ali-Imam

Friday, 11 January 2019

Life In SMANDA di Jatiarjo

Lifein progam yang dilakukan di Desa Jatiarjo sudah kesekian kalinya dulu Ada SMA Citra Berkat, Mi Alfalah dan sekarang (11-13/01) SMANDA Melakukan kegiatan lifein progam dan menggandeng karang taruna desa jatiarjo untuk membantu kelancaran kegiatan itu. 


kedatangan pesrta hari jumat jam 08:00 di Balai Desa Jatiarjo dan disambut oleh temen-temen karang taruna desa Jatiarjo,  dan disambut oleh sareh rudianto selaku Kepala Desa. memberikan gambaran monogrfi desa dan kebiasaan setiap warga masyarakat nya dan menceritakan sedikit tengtang wisata desa yang digagas pemuda desa demi membantu peningkatan perekonomian dengan Wisata Kampung kopi jatiarjo.
dan Adi selaku  ketua Kim Arjuna menjelas kan tentang apa kegiatan yang akan dilakukan selama kegiatan lifein ini dengan membuat inovasi baru olahan kopi,  masuk ke lambaga pendidikan untuk CSP ( Comunty Service Projet)  yang bertujuan kegiatan bersama masyarakat tampa mengharap kan imbalan.
[imam]

Hari amal bakti Kementerian Agama Kab Pasuruan

prigen (12/1) kegiatan Jalan sehat kerukunan hari amal bakti yang ke 73 kementerian agama Kabupaten Pasuruan sangatlah meriah yang dilaksanakan di Yayasan kaliandra sejati desa dayurejo jatiarjo prigen. peserta yang hadir dari seluruh lembaga yang dibawah nauangan kemenag pasuruan, sekitar 4ribu peserta, starnya digerbang yayasan kaliandra.


kegiatan ini berlangsung sangatlah meriah karna semau elemen yang ada dikabupaten pasuruan bekerja sama untuk terselenggara nya kegiatan ini.  yang diparkir ada karang taruna tunas karya desa jatiarjo.  untuk membantu keamanan pas waktu acara berlangsung.
dari dorprize yang diberikan kepada peserta adalah speda motor yang didapatkan oleh warga masyarakat desa jatiarjo.  kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi semua lembaga yang ada di Kabupaten Pasuruan.
[imam]

Sunday, 6 January 2019

Ngobrol Pintar Sonjo Deso

Dalam pembangunan wisata desa komunitas yang tergabung dalam Pancene ( Pasuruan Creative Network) mengadakan forum Ngobrol pintar sonjo deso yang dilaksanakan di Desa Sumberejo Purwosari minggu (6/1) saling silang ide dari setiap peserta yang hadir untuk menceritakan apa yang ada didesa masing masing untuk bisa dikembangkan kedepan untuk membantu membangun desanya.

dan Tri utami artis ibu kota tahun 90an menyatakan bahwa dalam membangun desa yang baik adalah dengan menjaga saling kterhubugan antara manusia alam dan tuhan agar ada keseimbangan dan bisa membangun desa lenih baik. dan juga didesa desa banyak harta karun gotong royong masih terjaga sampai sekarang. 
camat purwosari juga menyampaikan tentang pengembangan wisata desa dengan semua stake holder juga berperan dalam pengembangan river tubing yang dikelola oleh masyarakat untuk masyarakat. sidik selaku kepala desa juga berpesan wisata desa yang dikelola oleh masyarakat. yang kedepan akan dikelolah oleh BUMDESA. 
[imam] 

Saturday, 5 January 2019

Kemah Konservasi Mahagana STMIK Yadika



 Dalam Kegiatan kemah yang dilakukan oleh mahasiwa Mahagana STIK Yadika Bangil ialah Pengukuhan Pengurus Baru untuk kegiatan mahasiwa tanggap bencana masa bakti 2019-2020 dengan tema bergerak bersama dalam satu komitmen dalam penanggulangan Bencana alam dan penyelamatan lingkungan Hidup. kegiatan ini dilmulai pada Sabtu Minggu (5-6/1/2019) di kampung kopi jatiarjo.sebuah kegiatan yang diramu khusus untuk calon calon oenggita lingkunagan kabupaten pasuruan dibidang TAGANA.agar bisa bermanfaat untuk Nusa Bangsa dan agama.

Peserta datang disore hari membangun tenda dan lanjut kegiatan kelas malam yang di isi oleh komisione bawaslu kabupaten pasuruan krisna yang menyampaikan bagai mana menjadi pemilih yang bijak dalam pemilu.lanjut ke giatan caraka malam yang materinya tetang bimbingan mental untuk dikasih shock terapi agar bisa mencetak mahasiswa yang tangguh dan siap siaga dalam menangulangi sebuah bencana.
dan kegiatan dipagi harinya ialah diisi oleh basarnas dan team sar kabputen pasuruan materinya mengarakan lebih kepada sebuah teknis bagaimana penaggulangan sebauah bencana nantinya.



 satu dosenya STMIK Yadiaka juga meyampaikan banggga dengan sebuah kegiatan yang digagas oleh temen temen muda desa jatiarjo bisa menciptakan wisata berbasis masyarakat dengan memanfaatkan tanah bengkok desa sebagi pusatnya dan dari segi pemberdayaan masyarakatnya juga tersentuh karena untuk makan dan minum peserta memanfaatkan masyarakat lokal sekitar.

para pesertapun terlihat sangat senang dengan kegiatan kemah ini karna diakhir kegiatan semua peserta diwajibkan menanam pohon kopi untuk membantu perkembangan wisata kampung kopi desa jatiarjo kedepan.
 [imam]







Friday, 4 January 2019

Pemuda Desa RT 26 Dusun Cowek Membuat Inovasi Kampung Teduh Ramah Lingkungan



Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional dari waktu ke waktu. Ke depan, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk pekarangan, dalam menyediakan pangan bagi keluarga.
Prinsip dasar KRPL adalah: 
(1) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, 
(2) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, 
(3) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), 
(4) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa, dan
(5) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Latar belakang diadakannya Model KRPL ini adalah karena adanya 2 permasalahan, yaitu :
  1. Realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi;
  2. Perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas.
Adapun tujuan pengembangan KRPL adalah :
  1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga & masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, tanaman obat, ternak, ikan, pengolahan hasil dan kompos.
  3. Mengembangkan sumber benih / bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
  4. Melestarikan tanaman pangan lokal untuk masa depan.
  5. Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lingkungan hijau, bersih dan sehat secara mandiri.

Jadi, inti dari Model / Program KRPL ini adalah pemanfaatan pekarangan.  Di lingkungan pedesaan mungkin tidak ada masalah karena rata-rata keluarga mempunyai lahan pekarangan yang cukup.  Bagaimana dengan keluarga di perkotaan yang rata-rata berpekarangan sempit atau bahkan tidak ada lahan pekarangannya? Tidak bisakah ikut melaksanakan program ini?
Jawabnya adalah bisa.  Ya, KRPL ini bisa juga diterapkan di lingkungan perkotaan yang rata-rata pemukiman padat, perumahan tipe sedang – kecil atau bahkan di rumah susun. Dikarenakan lahan pekarangan di perkotaan tidak terlalu banyak, maka solusi untuk menerapkan KRPL adalah dengan menggunakan polybag. Teknologi ini dihadirkan dalam rangka memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari untuk konsumsi rumah tangga dan juga untuk memanfaatkan pekarangan rumah yang masih belum optimal. Beberapa tanaman yang dapat dibudidayakan dalam sistem KRPL antara lain: Budidaya Bayam, Budidaya Kangkung, Budidaya Sawi, Budidaya Selada, Budidaya Kemangi, Budidaya Katuk, Budidaya Seledri, dan Budidaya Bawang Kucai.
Didesa Jatiarjo Dilakukan di RT 26 Dusun Cowek yang digalakan Oleh bebrapa pemuda yang ada dilingkungan itu.dan pembibitanya dilakukan bersama karang taruna Tunas Karya Desa Jatiarjo yang dikomandoi oleh Purnomo. dari hasil pembibitan itu didistribusikan ke rumah rumah warga di RT tersebut dan sebagi pusat pembibitanya para pemuda membuat sebuah laboratorium pembibitan diarea RT 26.

Pemanfaatan lahan pekarangan selain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga sendiri, juga berpeluang meningkatkan penghasilan rumah tangga, apabila dirancang dan direncanakan dengan baik. Pemanfaatan pekarangan tersebut juga dirancang untuk meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber pangan lokal dengan prinsip gizi seimbang yang diharapkan berdampak menurunkan konsumsi beras. Melalui penanaman dan pengelolaan sumber pangan lokal tersebut, maka petani dan masyarakat telah melakukan pelestarian sumber daya genetik yang sangat bermanfaat bagi kehidupan generasi mendatang. Bila gerakan pengembangan KRPL dapat dilakukan dengan baik diharapkan bisa mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional yang semakin tangguh.
[Imam]